That Person

Hi semua~ sudah lama ya aku memuat postingan di blog pribadiku ini. Wajar saja sih, sekarang semesterku sudah semakin tua, jadi berpengaruh juga ke waktu luang yang aku punya. Dan kali ini ada sedikit  waktu luang untuk aku berbagi cerita di sini. Silahkan menyimak hehe

Tak terasa ya sudah satu tahun sejak acara itu berlalu. Dan satu tahun sudah perasaanku ke orang itu ada di dalam hatiku. Setiap kali ada di sekitarku dan setiap kali aku berjalan melewatinya, hati ini tak tenang. Sebenarnya, ingin aku hapus saja perasaanku kepadanya. Tapi, aku masih tidak sanggup. Rasa ketertarikanku masih belum pudar. Masih sama seperti satu tahun yang lalu.

Masih teringat jelas di benakku, momen kami saat menjadi partner dalam kepanitiaan. Salah satu yang paling aku ingat dan terus teringat yaitu ketika aku mau membuang air sisa di dispenser. Kalian tahu kan wadah kecil di bawah kran dispenser? Nah, waktu itu aku mau membuang air sisa di wadah itu. Tapi saat akan keluar ruangan jaga sambil membawa wadah itu, dia langsung berdiri dan berkata, “biar aku aja yang mbuang”. Kemudian dia mengambil alih wadah yang aku pegang dan keluar ruangan jaga. Setelah itu, dia balik dan memasang lagi wadah itu ke asalnya. (Maaf ya kalau aku ini baperan hehe. Tapi namanya kenangan berharga ya gimana)

Kemudian momen lain yang masih teringat di benak yaitu saat kami selesai bertugas. Waktu itu sudah hampir maghrib. Aku duduk di bangku yang tersedia di setiap  samping gedung kampusku. Aku sedang menunggu jemputan ayahku untuk pulang ke rumah. Saat sedang menunggu ayahku, dia lewat di depanku sambil menenteng sepatu hendak menuju mushola kampus. Dia yang melihat aku duduk dengan muka capek berkata kepadaku, “Semangat Cha!”. Aku hanya tersenyum menanggapi perkataannya itu. Kemudian dia langsung menuju mushola kampus. Selang waktu sholat maghrib usai, ayahku masih belum datang. Aku masih duduk di tempat yang sama. Tiba-tiba saja dia kembali lewat di depanku. Aku tanya kepadanya, “Kamu mau ke mana?”. Dia pun menjawab, “Mau makan”. Aku bilang kepadanya, “Makannya di sini aja. Sambil temenin aku nunggu dijemput”. Dia mengangguk tanda mau dan mengambil tas beserta nasi kotak di tempat duduk asalnya. Tak sampai lima menit, dia sudah berada di depanku lagi. dia langsung mengambil tempat di hadapanku dan duduk.

Dia membuka nasi kotaknya dan mulai makan. Aku mencuri pandang ke arahnya. Ternyata dia membawa dua buah nasi kotak. Aku menduga kalau satu nasi kotak lainnya adalah bekal makannya nanti malam ketika di kos. Sambil dia menyantap makanannya, aku mengajaknya untuk mengobrol. Aku iseng bertanya tentang dirinya meskipun aku sudah tahu jawabannya. Sayang beberapa menit kemudian, ayahku sudah datang. Terpaksa aku harus meninggalkannya yang masih menyantap nasi kotaknya. Aku mengucapkan terimakasih dan pamit kepadanya.

Entah kenapa rasa kagum dan suka yang ada di hatiku untuknya masih belum bisa lenyap.

Aku juga tidak tahu sampai kapan akan menyimpannya.

Bagus Guntur Farisa, degup jantungku terdengarkah?

Advertisements

Jawab ya~

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s