A Memoar : Tommy Aria Pradana

Sebenarnya ini menyesakkan dada jika kembali mengingatnya. Hanya tersisa sikap polos dan bodohku. Apa yang aku tahu tentang rasa, cinta, dan hati seseorang untukku. Aku terlalu lugu dalam menjalin sebuah hubungan dengan lawan jenis. Bahkan aku ini masih terlihat seperti anak-anak. Lebih tepatnya kekanak-kanakan.

Apa yang sebenarnya terjadi denganku dan seseorang bernama Tommy Aria Pradana. Awalnya aku hanya mengenal dia sebatas seorang teman dari teman dekatku di bangku SMA. Dari saat awal itu, dia selalu menunjukkan perhatiannya kepadaku. Namun, aku hanya bersikap seolah tak peduli dan cuek saja karena aku masih menyukai teman sekelasku ketika di bangku SMP. Satu lagi, aku belum terlalu mengenalnya.

Waktu berjalan, hubunganku dengan dia mulai dekat. Kedekatan kami bukan hanya sebatas bercerita tentang kehidupan sehari-hari. Kedekatan kami layaknya sepasang remaja yang dalam ikatan rasa suka. Untukku, dia bukan lagi teman. Tapi sudah lebih dari sekedar itu. The man who I loved.

Dia menjadi orang yang harus hadir dalam setiap hari di hidupku. Aku bagaikan pecandu yang harus mencari obat di manapun itu jika sehari saja tidak melihatnya. Aku pun merefleksikan diriku bagaikan boneka yang terikat tali tak kasat mata.

Aku yang menyadari itu semua kini hanya tertawa masam. Hubungan apa yang kami bangun. Sudah tentu terlihat aku menyukainya. Tapi dia? Dia selalu menyangkal untuk mengakuinya dengan alasan takut untuk melangkah. Lalu, apa yang dia lakukan terhadapku di waktu yang telah berlalu itu. Sebodoh itukah dia? Tidakkah dia sadar akan resiko sikapnya terhadapku akan menimbulkan efek yang lain?

Jika dia tidak mau menjalin sebuah hubungan dari lebih sekedar teman, seharusnya dia berhenti bersikap seolah dia ingin menjadi pelindungku. Dan satu lagi. Tolong jangan diam saja. Aku tau kamu berpura-pura sibuk dengan hal lain karena ingin menghindariku. Takut aku terluka. Takut aku kecewa.

Tidak Tom. Tidak! Justru kalau dirimu bungkam, aku malah tambah gila dan penasaran setengah mati. Jujurlah. Ungkapan apapun yang ada di pikiranmu. Percuma aku mengirimu pesan dengan segenap keberanian dan kejujuran hatiku jika ternyata hanya menumpuk di notifikasi gadget pintarmu dan baru kamu baca jika aku sudah mengirimimu pesan berbau mengancam dan berisi rasa sakit.

Bukan hanya aku yang ingin dia mengerti aku. Tapi aku juga ingin memahamibya balik. Bahkan sampai sejauh ini, apa yang aku tahu tentang dirinya? Hanya sekedar nama lengkap, kapan dia lahir, dia pintar dalam hal apa, di mana rumahnya, dan hal-hal umum yang pasti orang lain tahu meskipun tidak dekat dengannya. Tapi, apa aku tahu warna kesukaan, ukuran sepatu, tempat favorit, apa dia pernah mengalami kecelakaan atau tidak, dan hal lainnya ? Tidak. Selama hampir empat tahun, aku hanya bercerita tentang diriku sendiri padanya.

Jujur. Pintu hatiku masih terbuka untuknya. Bukan untuk kembali sebagai orang yang istimewa di hadapanku. Tapi kembali sebagai teman yang mampu mengisi kekosongan hariku. Aku bahkan tak mampu untuk menghapus segala bentuk memori dan hal yang berbau tentangnya saat ini, meskipun menghapus nomer teleponnya sekalipun.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s