Bis Kota di Antara Trans Jogja

Pagi ini tidak seperti biasanya aku naik trans Jogja ke kampus. Kali ini aku harus rela tidak naik trans Jogja ke kampus karena ketika sampai halte, petugasnya bilang kalau supirnya pada mogok alias demo. Aku pun berjalan terus sampai perempatan Pingit dan meneyeberang jalan. Menempuh satu cara alternatif untuk sampai ke kampus, yaitu naik jalur 15.

Yap, bis kota jalur 15. Hmmm…. rasanya sudah lama sekali aku tidak naik bis kota. Seingatku terkahir kali aku naik yaitu ketika awal kuliah di UGM dulu. Beruntung setelah menutup telepon ke ayah, bis kota jalur 15 yang ditunggu tiba. Dan saya bisa sampai ke kampus dengan selamat, aman, dan cepat walaupun merogoh kocek sedikit lebih banyak daripada naik Trans Jogja hehe.

Bisa dibilang saat ini bis kota sudah berkurang kuantitasnya. Bahkan beberapa jalur bis kota sudah hilang karena jalurnya telah dipakai untuk Trans Jogja. Yah, memang begitu. Keberadaan bis kota sendiri sudah tergeser dengan munculnya moda transportasi yang diluncurkan oleh Dinas Perhubungan Kota Yogyakarta bernama Trans Jogja. Mungkin tujuannya untuk mengurangi kemacetan dan memperlancar transportasi masyarakat dalam bepergian. Namun, sayang sekali sepertinya. Tujuan tersebut tidak diimbangi dengan kualitas yang disediakan oleh Dinas Perhubungan dalam mengadakan fasilitas transportasi Trans Jogja.

Nah sehabis saya pulang kuliah ini, saya berniat kembali pulang dengan Trans Jogja karena saya berpikir bahwa supirnya sudah kembali menjalankan armadanya. Tapi lagi – lagi saya tidak bisa menggunakan Trans Jogja untuk kembali ke rumah. Ketika sampai di halte, petugasnya berkata bahwa bisnya akan datang jam 8 malam karena armada yang beroperasi hanya satu. Saya awalnya memutuskan untuk menunggu saja karena saya juga bingung harus bagaimana. Beberapa menit kemudian muncul niatan untuk meminta tolong kepada teman. Saya pun mengontak beberapa teman. Akhirnya ada satu adik angkatan saya yang berbaik hati mau mengantarkan pulang. Saya menunggunya datang sembari mendengar obrolan petugas halte dengan calon penumpang Trans Jogja lainnya.

Sebab musabab supir Trans Jogja melakukan aksi demo terjawab sudah. Dari obrolan petugas dengan calon penumpang Trans Jogja lainnya, saya menangkap bahwa supir berdemo karena protes dengan kualitas armada Trans Jogja yang tidak layak jalan. Dan saya pun langsung terharu seketika. Ternyata mereka, para supir Trans Jogja, sangat memerdulikan kenyamanan dan keselamatan para penumpang. Meskipun para penumpang harus rela tidak bisa naik Trans Jogja untuk bepergian. Dan saya pun merasakan sendiri bahwa nyatanya kualitas armada Trans Jogja terlebih lagi jalur 3 dan 4 tidak layak untuk digunakan. Mulai dari mesin yang terkadang mati, tempat duduk yang agak tidak nyaman lagi, ban yang sering bocor, dan sederetan masalah lainnya. Saya berharap kedepannya pemerintah Kota Yogyakarta khususnya Dinas Perhubungan untuk segera mengatasi hal ini agar masyarakat nyaman dalam menggunakan transportasi umum.

Sekian cerita saya kali ini. Tak lupa saya mengucapkan terimakasih untuk Nur Diah Sulistyani alias Lilis, seorang mahasiswa Bahasa Korea UGM 2016, yang berbaik hati mengantarkan saya pulang ke rumah. 고마워요 ^^~

Advertisements

One thought on “Bis Kota di Antara Trans Jogja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s