Awal September : Berasa Reverse

Awal bulan September. Yap, awal bulan September jatuh pada hari ini. beberapa hari sebelumnya, aku telah bertekad untuk mengaburkan semua memori ku tentang dia. Dan berharap untuk tidak bertemu dengan dia lagi selama aku masih seperti ini. (Seperti ini ? maksudnya ?)


Oke baiklah, aku bakal bercerita sedikit. Entah mungkin terkena virus atau suatu syndrom, tubuhku terkadang terasa sangat lemas dan gemetaran kalau mengingat di dan seakan merasa ada dia di sekitarku. Dulu, kalau aku sedang “seperti ini”, aku ingin sekali bertemu dia. Keinginan itu berubah menjadi kebutuhan dan berakhir menjadi ketergantungan.  Aku pun berpikir lagi, kalau aku terus seperti ini, apa aku bakal kuat jika aku nanti tak bertemu dia lagi ? Akhirnya, sejak beberapa hari lalu, aku memutuskan untuk berharap tidak bertemu dia.

Aku mohon, jangan temui aku dulu. Aku gag bisa buat ketemu kamu dalam keadaan seperti ini.

Untuk memenuhi tekadku itu, aku berusaha untuk tetap diam jika dia mengacuhkanku. (biasanya aku selalu berkeluh kesah di twitter dan meangis). Aku juga sebisa mungkin tidak mengganggunya karena aku tahu, akhir – akhir ini dia sibuk dan terlihat tidak memandangku sama sekali. Tapi ini bukan berarti aku menghindarinya lho yaa~ Aku cuma berusaha mengerti dirinya dan sebisa mungkin tidak membuat konflik di antara hubungaku dengan dia.

Tapi, usahaku hari ini terasa sia – sia. Takdir berkata lain. Pagi hari, aku hampir bertemu dia. Aku yang melihat dia turun dari motor, langsung melepas kacamata dan menambah beberapa angka volume mp3 player ku. Aku memepercepat langkahku dan sesegara mungkin mencapai kelasku. Istirahat, aku merasa was – was karena takut bertemu dia. Untung saja tidak. Aku sangat bersyukur sekali. Aku merasa sangat lega dan tidak terbebani oleh perasaan yang menyiksaku hampir setiap hari kemarin.

Kelegaan ku itu tak berlangsung lama. Kelegaan ku hancur ketika aku berada di perpustakaan sekolah. Aku sedang mencari temanku yang satu jurusan denganku. Aku menemukannya tepat di saat aku mendengar sebuah suara yang tidak aneh bagiku. Pandanganku kabur karena aku melepas kacamataku. Dan aku menebak bahwa itu adalah dia. Aku menoleh ke belakang. Ternyata memang benar itu adalah dia.

Mendadak, tubuhku bertambah parah lagi keadaannnya. Aku serasa sesak. Oksigen di sekitarku mulai menyusut rasanya. Aku pun bersikap untuk tidak mengenalinya dan tetap tenang. Bel tanda pulang sekolah berbunyi. Lagu Bagimu negeri dan Mars sekolah berdengung. Semua anak yang ada di perpustakaan berdiri. Aku juga termasuk. Aku mengambil posisi di seblah kiri temanku agar tertutupi dari pandangannya. Aku terkejut saat dia malah menghadap ke arahku ketika dia mengambil posisi untuk bernyanyi. Untung saja temannya segera menyuruh berbalik badan. Setelah selesai bernyanyi, dia pergi dari perpustakaan. Aku merasa oksigen bertambah di sekitarku. menit berikutnya, aku berkata pada temanku untuk keluar bertemu seseorang. Temanku berkata, “cepet kowe ndang lunga” yang bernada seperti pura – pura mengusir. Aku keluar beberapa saat dan kembali ke perpustakaan lagi. Temanku berkata kalau aku beruntung tadi keluar, karena dia kembali lagi ke perpustakaan. tapi dia kemudian pergi lagi. Fiiuuuh~ batinku.

Beberapa saat kemudian, aku dan temanku keluar dari perpustakaan dan berniat ke kantin sampai temanku dijemput ibunya. ketika kakiku berada di ambang pintu, temanku memberitahu bahwa dia akan mnuju perpustakaan. Aku yang menyadari hal itu segera menarik lengan temanku untuk kembali lagi dengan maksud menghindarinya. Dan ternyata dia memang kembali ke perpustakaan dan segera mengambil tempat duduk di depan komputer. Aku pun langsung melangkah keluar bersama temanku.

****************************************************************************

Temanku sudah dijemput dan aku berniat kembali ke perpustakaan. Aku berjalan menuju perpustakaan dengan harapan dia tak ada lagi dari sana. Aku membuka pintu dengan perlahan. Dan….. harapanku itu segera pupus, karena benar dia memang masih di tempat yang sama. Aku segera bersikap tenang dan tak peduli dengan kehadirannya. Walaupun tubuhku teras ngilu dan agak menggigil serta pikiran ku kacau yang ditambah jantung yang berdegup tak karuan. Aku berusaha mengalihkan perhatiaku dari dia dan sebisa mungkin tidak menarik perhatiannya, agar tidak terjadi kontak antara aku dan dia. Aku gag mau, dengan keadaan “seperti ini”, melakukan interkasi dengan dia. Yang ada nanti aku malah jadi kacau dan tekadku jadi hancur karena aku kembali tergoda untuk berlaku sama seperti dulu. Aku tak mau lagi seperti dulu, karena aku tau, itu hanya membuat semua makin rumit dan tak jelas.

Kalian tau, kejadian hari ini, pernah terjadi beberapa waktu yang lalu.
Dan aku, De Javu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s